Tak Mudah… Keputusan Tak Luput dari Kesalahan
“Ya ampun.. kosong lagi nih kuliah kita pagi ini? Haduh, kalau terus-terusan begini mau jadi apa kita? Capek aku bolak-balik ke kampus tanpa ada yang nyangkut di otak. Kagak nyadar apa kalau begini ini rugi waktu,” cerocos ku di tengah hiruk pikuk suasana kampus pagi itu.
“Udalah Na, mungkin emang dosen kita lagi ada keperluan penting lain. Eh, liat nih ada hot news!!” Kata Gendis sambil menyerahkan satu lembar bulletin kampus yang ia bawa dari tadi.
Nara mengambil dan lekas membacanya. Dengan seksama ia tekuni tiap kata yang tertulis, tatapannya semakin lekat pada barisan tulisan pada bulletin yang sedang ia baca.
“Oh.. soal akreditasi itu…Aku udah tahu beritanya kemarin, dari mulut ke mulut. Yah, mau gimana lagi, banyak pihak yang kecewa.” kataku pada akhirnya.
Ternyata isu yang beberapa hari ini santer terdengar akhirnya memang terbukti kebenarannya. Akreditasi Program Studi Bahasa Inggris di Kampusku belum seperti yang diharapkan. Nilainya C. Antara harus diterima dengan hati terbuka, tetap bersyukur namun juga ada desir kekecewaan. Siapa yang salah? Ah, tidak, seharusnya pertanyaannya “apa yang salah?”. Batinku.
“Heh, kok jadi bengong sih Na? Komentar kamu cuma gitu aja?” ujar Gendis yang masih keheranan melihat sahabatnya itu terdiam.
“Ndis, kita ikut demo yuk!! Hari ini anak-anak PBI semua semester mau ke rektorat, ayok kita gabung sama mereka!” aku berteriak antusias dan tersenyum yakin ke arah Gendis.
“Kamu serius? Ikutan demo, Na? Aku belum pernah.” kata Gendis yang sedikit tak yakin.
“Aku juga belum pernah. Kita pinjem almamater terus ikutan ngumpul di hall. Buruan Ndis, ntar kita ketinggalan.” ucapku seraya menggandeng tangan Gendis.
Hari ini anak-anak PBI dari seluruh angkatan bersama dengan gabungan beberapa prodi (program studi) lain akan beranjak menuju rektorat. Tak lain dan tak bukan adalah menyuarakan pikiran mereka tentang apa yang tengah dialami prodi. Akreditasi yang memburuk. Berbekal semangat yang membuncah, menyeruak bersama suara-suara lantang yang ingin didengarkan oleh orang nomor satu yang tengah duduk di gedung megah bertuliskan barisan huruf yang rapi dan berkilau bak emas, “rektorat” UAD.
